“Jadilah bodoh… sebodoh Plato, Aristoteles, Abu Nawas, Ibnu Sinna… Kebodohan yang mengundang pengetahuan untuk mampir, seraya mengundang proses dialektika.. Sumpah, aku belum tahu apa-apa, tapi aku ingin sekali tahu.. Mari mampir…”
Sebenernya seneng sih, bila ada yang senantiasa mengingatkan kesalahan-kesalahan kita. Setiap kita hendak silap, dia datang, sekedar menegur atau memperingatkan. Seneng, seneng.. tapi semua hal ada tempatnya aku rasa. Bila sesuatu tidak ditempatkan pada tempatnya, maka jadinya malah mengganjal.
Misal:
- Nulis cerpen melalui Twitter; selain memang ga bisa; siapa juga yang mau baca tulisan panjang di tempat di mana semua orang ingin berpendek-pendek?
- Memakai bahasa baku di surat buat sohib; boleh saja, tapi jika si penerima surat terbiasa dengan bahasa yang mengalir, maka kebakuan itu justru akan menunda cairnya proses komunikasi…
Intinya:
Menaruh seseorang di posisi yang belum layak dia tempati, hanya akan membuat dia jadi hiasan janggal di ruang tamu tempat kita semestinya bisa berakrab-ria. Dan semua orang akan bertanya-tanya: “Kenapa dia ada di situ?”, “Apa waktu kecil dia kurang susu?”, “Kalo dia bisa mengalir, pasti dia tidak akan kanyut..”, dst, dsb..
Lagipula, seorang Hakim juga tidak akan memakai toga dan membawa palu saat diundang makan di Warung Tegal. Dan di sana orang tidak akan bertanya: “Apa kamu hapal KUHP pasal 17?” tanpa aba-aba. Hingga dia tidak perlu menunjukkan pada semua orang bahwa dia seorang Hakim, dan bisa membetulkan tataletak permasalahan secara Hukum; Kecuali bila memang diminta.
Jadi, tunggulah sampai kamu diminta, atau memang suasananya mengundang kamu untuk menunjukkan bahwa kamu hapal semua pasal KUHP sampai ke butir terkecilnya.
Sebelum itu, angkat gelasmu dan mari bincangkan semua hal sambil begadang, berbeda dan berbahagia.. dari mulai paham Komunis, sampai harga jengkol di Pasar Bogor.. tanpa ada yang harus bakar-bakar buku, apalagi sampai bikin bocor darah di kepala.
Setelah itu baru sadar, bahwa ternyata kita saudara jua..