Gandi memang hebat, dia mendekorasi taman layaknya seorang landscape designer. Saat aku berjalan di tengah taman pagi ini, aku merasa berada di sebuah desa di Korea (kok bisa? -bisa saja, kenapa tidak?) Mendadak pandanganku tertuju pada sebuah bunga yang bentuk-lekuknya seperti tubuh seorang model kenes dari katalog Mark & Spencer.
"Ah, Pak Indra pandai betul memilih bunga.." ujar Gandi sambil tersenyum ramah. "Bunga ini namanya apa?" tanyaku. "Oh, itu bunga Haengnam, dari Korea." Jawab Gandi mantap.
Lalu di depanku melintas seorang perempuan berwajah oriental, tampak sibuk dan gila, namun tetap jumawa. Dia melambaikan tangan, "Oy, my name is Amanda.. andesway-endeswey-endeswey.."
Sikap tubuhnya statis dan terpelihara, tapi aku sudah terlanjur paham psikologi wanita sejak SMP, jadi aku tahu apa dan bagaimana dan sesudahnya. Foto anak di dompet mengingatkanku untuk memasang topeng besi. Hamdalah.
"Anak Babeh," sahut Gandi. Aku tersenyum saja. 1704 anak Babeh sudah pernah kubuat menungging bahagia. Cerita yang sama: tentang kemapanan dan ketidaktahuan bagaimana menyikapinya.
Lalu dia pergi, dan aku tetap di sini. Bersama Gandi (disusul mbak Sri). Menghayati kehidupan dari setiap butir nasi di Warung Tegal.
"Saya pernah di pinggir jurang, Mas" ujar Gandi.
"Aku juga, justru karena itu kebahagiaan kita lengkap jadinya;" Kami pun tertawa (kali ini bersama Nurjen di latar belakang.)